Minggu, 12 Agustus 2012

Tentang Perkembangan Kaligrafi


Tentang Perkembangan Kaligrafi
Sangat menarik untuk dibaca sejarah seni kaligrafi Islam dan bagaimana tren perkembangannya dari masa ke masa. Benar adanya bahwa seni kaligrafi Islam termasuk seni yang berusia cukup tua ya.
Kaligrafi Islam merupakan seni rohani. Islamic Calligraphy is a spiritual geometry brought about with material tools, demikian sang maestro klasik Yaqut Al-Mustashimi, menggambarkan keagungan seni ini.
Kaligrafi Islam memang bukan sekedar karya seni rupa biasa. Namun, karya ini memiliki pesona spritualitas yang memiliki makna yang dalam bagi yang memahaminya.
Meski kaligrafi identik dengan tulisan Arab, namun kata kaligrafi diyakini berasal dari bahasa Yunani. Yaitu kalios yang berati indah dan graphia yang berarti tulisan. Sementara itu, Bahasa Arab mengistilahkannya dengan istilah khatt (tulisan atau garis) yang ditujukan pada tulisan yang indah. Hal ini seperti yang tercantum dalam al-kitabah al-jamilah atau al-khatt al-jamil.
Ditilik dari sejarahnya, akar kaligrafi Arab sebenarnya adalah tulisan hieroglif Mesir, yang kemudian terpecah menjadi khatt Feniqi, Arami dan Musnad. Yakni kitab yang memuat segala macam hadits. Menurut al-Maqrizi, seorang ahli sejarah abad ke-4, tulisan kaligrafi Arab pertama kali dikembangkan oleh masyarakat Himyar. Yakni suku yang mendiami Semenanjung Arab bagian barat daya (sekitar 115-525 SM). Musnad merupakan kaligrafi Arab kuno yang mula-mula berkembang dari sekian banyak jenis khatt yang dipakai oleh masyarakat Himyar. Dari tulisan tua Musnad yang berkembang di Yaman, lahirlah khatt Kufi.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa khatt Kufi ini terus berkembang dan mencapai puncak kesempurnaannya pada pertengahan abad VIII M. Khatt Kufi menjadi primadona dan dijadikan sebagai tulisan wajib untuk menulis mushaf Alquran. Bahkan, sebagian kelompok fanatik menganggap jenis khat dengan ciri khas kaku ini diyakini bersumber dari malaikat Jibril saat me-nyampaikan wahyu pertama.
D Sirojuddin AR (1989) mengungkapkan, kehadiran Alquran di awal kehadiran Islam sangat berkorelasi positif dengan tumbuh dan berkembangnya seni kaligrafi Arab (Alquran) Teori ini memang tepat untuk menggambarkan sumbangsih dan pengaruh kuat Alquran terhadap dinamika tradisi kaligrafi pada masyarakat Arab, terutama umat Islam pada masa lampau.
Meski orang-orang Arab pada waktu itu dikenal piawai dalam tradisi verbalism, khususnya bidang kesusastraan, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (kitabah/ khathth) masih tertinggal jauh dibanding beberapa bangsa lainnya. Seperti Mesir dengan tulisan hieroglif, Jepang dengan aksara Kaminomoji, Indian dengan Azteka, Assiria dengan huruf Paku, ataupun India dengan gaya Devanagari. Dalam rentang inilah kaligrafi Islam lahir sebagai masterpiece yang sangat diagungkan. Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan. Bahkan dia menandai masuknya Islam di Indonesia.
Hal ini berdasarkan hasil penelitian arkeologi yang dilakukan Prof Dr Hasan Muarif Ambary. Kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada abad ke-11. Datanya ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/ 1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad ke-15. Kebiasaan menulis Alquran telah banyak dirintis para ulama besar di pesantren-pesantren semenjak akhir abad XVI. Dalam perkembangan selanjutnya, kaligrafi tidak hanya dikembangkan sebatas tulisan indah yang berkaidah tetapi juga mulai dikembangkan dalam konteks seni rupa yang terus menginspirasi dan divariasikan secara terus menerus.
Penggelut bisnis kaligrafi dari Afie Etnic Prasetyo mengatakan, saat ini hampir di setiap rumah, dapat dijumpai ada pajangan kaligrafi Islam. Paling tidak ada kaligrafi yang bertuliskan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW. Hal ini, menunjukan bahwa seni kaligrafi telah semakin diminati. Tak hanya karena seni ini memiliki nilai estetika yang tinggi. Namun, kaligrafi telah dianggap sebagai salah satu karakter dan simbol jati diri seorang muslim. Sejak beberapa tahun belakangan, tren kaligrafi memang semakin berkembang. Kalau dulu, kaligrafi hanya sebatas ornamen masjid atau musala, namun sekarang tidak lagi.
Bahkan, sepertinya sudah menjadi keharusan bagi keluarga muslim untuk memajang kaligrafi di dalam rumah, ujar Prasetyo saat ditemui di galeri pamerannya di Palembang Indah Mal (PIM), kemarin. Menurut Prasetyo, kaligrafi bukan hanya sekedar karya seni rupa biasa. Namun, tulisan kaligrafi bersumber dari ayat-ayat suci Alquran. Sehingga memiliki makna yang dalam bagi yang memahaminya.
Tulisan yang terkandung dalam kaligrafi memiliki filosofi dan pesan dakwah agar umat Islam senantisa selalu membaca ayat-ayat suci Alquran dan ingat kepada Allah SWT. Maka dari itu, banyak yang beranggapan bahwa memajang kaligrafi lebih baik daripada memajang pantung atau gambar makluk hidup seperti manusia dan hewan. Terlebih, saat ini karya seni kaligrafi sudah semakin variatif. Setiap tahun trennya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Tak hanya sebatas seni lukis yang menggunakan media kanvas atau kertas saja. Namun, kini kaligrafi telah banyak dituangkan dalam media logam, kuningan, kaca, kolase ataupun ukiran kayu.
Dengan tampilannya yang semakin beragam, kini kaligrafi telah menjadi pilihan banyak kalangan muslim sebagai penghias interior atau dekorasi ruangan lainnya, kata Prasetyo.
Prasetyo mengungkapkan, pada tahun lalu seni kaligrafi dengan media kuningan sempat menjadi tren di kalangan masyarakat. Unsur logam yang dipadu dengan warna keemasan dinilai memberikan kesan mewah pada pajangan ini. Namun, pada tahun ini, masyarakat lebih menyukai kaligrafi ukir yang menggunakan kayu jati atau mahogani. Unsur kayu dengan warna dasar cokelat membuat ukiran ini terkesan lebih natural namun elegan.
Untuk harganya, lanjut dia, seni kaligrafi memang relatif mahal. yakni berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung dengan bahan, bentuk, ukuran, dan tingkat kerumitannya. Sebagai gambaran untuk ukiran kaligrafi ayat kursi dari kayu jati berukuran 170 cm x 60 cm dapat dijual dengan harga Rp2 juta. Sedangkan untuk satu pasang kaligrafi bertulisakan Allah dan Muhammad dengan ukuran 25 cm x 25 cm dapat dijual dengan harga Rp400 ribu.
Setiap tahun, tren kaligrafi cenderung berubah. Hal ini, pada akhirnya menjadikan kaligrafi memiliki nilai prestisge tersendiri bagi kalangan tertentu, papar Prasetyo. Perajin kaligrafi lainnya, Mulya Sujana, mengakui permintaan terhadap seni kaligrafi semakin tinggi.
Sumber: okezone.com

Tentang Huruf Kaligrafi


Tentang Huruf Kaligrafi
Awalnya adalah coretan, kemudian mengalami pergeseran. Huruf timbul setelah evolusi simbol. Bukan lagi spesifik, tapi bisa dirangkai menjadi bermacam-macam kalimat. Ketika huruf-huruf di blog ini terangkai, tentu Anda kemudian bisa membaca. Tanpa huruf, mustahil kalimat saya bisa tersampaikan.
Namun tidak sesederhana itu akhirnya. Meskipun huruf sudah ditemukan, akhirnya menemukan ruang untuk mempercantik bentuk. Dari sanalah muncul bermacam-macam corak, meskipun hurufnya sama. Dalam kaligrafi juga demikian. Ada bermacam-macam corak, sebagaimana huruf-huruf mutakhir yang sudah dirumuskan oleh program komputer: font.
Ada times, arial, serif, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis mempunyai keluarga sendiri-sendiri yang memiliki kemiripan. Seperti arial dan helvetica misalnya, keduanya tampak mirip satu dengan yang lain meskipun keduanya berbeda.
Huruf H tanpa terangkai dengan uruf bukanlah apa-apa. Kecuali memang dimaksudkan untuk membuat seseorang bertanya-tanya.
Kalimat Jangan buang sampah sembarangan misalnya, yang tertulis di sebuah halaman sekolahan akhirnya menjadi penyampai bahwa di halaman tersebut seseorang dilarang membuang sampah seenaknya sendiri. Yang bisa membaca mudah mengerti. Yang belum, perlu dipertanyakan lagi.
Huruf menggantikan simbol yang memiliki bermacam-macam makna. Huruf menyampaikan bahasa.
Setelah melewati fungsi huruf, bentuk menjadi bagian lain yang memperkuat penyampaian. Jenis satu dengan yang lain mempunyai karakter berbeda. Jangan buang sampah sembarangan tertulis arial, mudah dibaca, bukan dengan huruf latin yang mempunyai karakter lembut.
Huruf arab jenis kufi misalnya, memiliki karakter kotak-kotak (kubisme) yang memberi kesan kokoh. Kelenturan diwani, dan goresan farisi memberi keluwesan dalam menyampaikan makna dalam tulisan. Dari keperluan fungsi penyampaian akhirnya muncul bermacam-macam bentuk dan gaya.
Sumber: - belajarkaligrafiislam.wordpress.com dan http://kaligraficantik.wordpress.com/2011/03/28/

Tentang Kaligrafi


Tentang Kaligrafi
Dalam buku Ekspresi Seni Kaligrafi karangan Aklaman disebutkan, bahwa perkembangan kaligrafi dalam Islam sejak awal menunjukkan keeratan dengan Alquran. Hal itu mengingat bahwa semangat kaligrafi juga merupakan semangat melestarikan Alquran. Bahkan, Alquran ditulis dengan kaligrafi elok dengan ukiran emas.
Kaligrafi mempunyai makna-makna yang sangat kompleks seperti yang ditunjukkan oleh naskah yang ditulis Attauhidi, seorang penulis besar zaman Abbasiyah.
Nilai-nilai tersebut adalah:
Pertama, kaligrafi dianggap sebagai refleksi kebijaksanaan dan kualitas kesempurnaan manusia. Gaya dalam kaligrafi merupakan citra intelek yang mewujud dalam bentuk. Ini dicatat Attauhidi dalam beberapa pernyataan yang disebutkan pada risalahnya. Misalnya, di sana disebutkan:
Abbas berkata: tulisan tangan adalah lidah tangan. Gaya adalah indahnya intelek. Intelek adalah lidah bagi bagusnya kualitas dan tindakan. Dan bagusnya kualitas dan tindakan adalah kesempurnaan manusia.
Atau misalnya lagi dikatakan,
Qalam adalah kebijaksanaan yang utama. Tulisan tangan adalah keutamaan qalam. Gagasan adalah karunia yang indah dan intelek, dan eloknya gaya adalah hiasan bagi seluruhnya itu.
Kedua, kaligrafi juga dianggap sebagai intelek yang juga disebut beberapa kali seperti yang disebutkan Hisyam bin Al Ahkam:
Tulisan tangan adalah perhiasan yang ditampakkan oleh tangan dari emas murni intelek. Ia juga adalah kain sutera yang ditenun oleh qalam dengan benang kepiawaian.
Sementara itu, Bisyr ibn Al Mutamir berkata:
Batin adalah tambang, intelek adalah mineral yang mulia, lidah adalah pekerja tambang, qalam adalah tukang emas, dan tulisan tangan adalah benda perhiasan yang telah jadi.
Ketiga, kaligrafi di pihak lain merupakan perpaduan antara pikiran dan perasaan, kualitas intelek dan intuisi.
Abdul Dulaf Al
Ijli misalnya pernah berkata,
Qalam adalah tukang emas perkataan. Ia mencairkan dan mengungkap isi hati, dan menampakkan batang-batang bagian tubuh di mana pikiran dan perasaan bermuara.
An Namari suatu saat berkata,
Qalam dan hewan-hewan  beban bagi akal, kurir bagi fakultas-fakulas alamiah dan bagian tubuh yang utama di mana pikiran dan perasaan bermuara.
Sumber: - belajarkaligrafiislam.wordpress.com dan http://kaligraficantik.wordpress.com/2011/03/28/

Tentang Zakat


Tentang Zakat


Menurut bahasa, Zakat artinya suci, tumbuh dengan subur, bersih dan berkah, hal itu sesuai dengan manfaat Zakat bagi yang Berzakat (Muzaki) maupun bagi penerima Zakat (Mustahik). Bagi Muzaki (Yang Berzakat), Zakat berarti membersihkan hartanya dari hak-hak Mustahik (Penerima Zakat), khususnya para fakir miskin. Selain itu, Zakat juga membersihkan jiwa dari sifat tercela seperti kikir, tamak, serta sombong sedangkan bagi Mustahik (Penerima Zakat), Zakat membersihkan jiwa dari iri hati dan dengki. Sebagaimana arti Firman Allah dalam Q.S At-Taubah :103:
‘’Ambilah Zakat dan sebagian harta mereka dengan Zakat itu kamu membesihkan dan mensucikan mereka.
Manfaat Zakat yang lain adalah dapat menyebabkan harta para Muzaki (Yang Berzakat) bertambah banyak. Sehingga harta mereka mendatangkan berkah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist yang artinya : Bentengilah dan suburkanlah hartamu dengan Zakat

       Sedangkan menurut istilah syara, Zakat adalah mengeluarkan sebagian harta benda sebagai sedekah wajib. Sesuai perintah Allah kepada orang-orang yang telah memenuhi syarat-syaratnya dan sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Hukum Zakat adalah Fardu Ain. Orang yang mengaku beragama Islam, apabila mengingkari kewajiban Berzakat dapat dianggap Murtad. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-Bayyinah ayat 5. Macam-macam Zakat, Zakat dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Zakat Fitrah (pribadi); adalah sedekah wajib menjelang Idul Fitri dengan beberapa ketentuan dan persyaratan.
2. Zakat Mal (harta); adapun Zakat Mal yang wajib dikeluarkan Zakatnya yaitu emas,perak, mata uang ,harta perniagaan,hewan ternak, buah-buahan dan harta rikaz (harta terpendam).
Berdasarkan QS At-Taubah : 60 ada 8 golongan yang berhak menerima zakat yaitu Fakir, Miskin , Amil, Mualaf, Gharim, Sabilillah dan Ibnusabil.
 Zakat termasuk salah satu rukun Islam yang wajib secara Syari untuk dilaksanakan oleh setiap orang Islam. Begitu pentingnya zakat sampai-sampai Abu Bakar As-Shidiq yang terkenal lemah lembut itu ketika menjadi Khalifah dalam menghadapi para pembangkang yang tidak mau membayar zakat pernah mengeluarkan pernyataan bahwa beliau akan memerangi orang yang memisahkan antara Shalat dengan Zakat. Fenomena yang terjadi saat ini banyak orang Shalat tetapi tidak membayar Zakat. Oleh karena itu secara umum umat Islam tidak bisa merasakan barakah dari tuntunan Zakat itu sendiri. Padahal orang mukmin yang benar itu adalah yang menegakkan Shalat dan mengeluarkan Zakat (QS 8: 3-4)

Sumber: Article in my 1st blog akhbarfaurazi.blogspot.com